Thursday, 10 March 2011

(FF-part 3 of 4- PG+13) What if


komunikasiku dan Young na mulai membaik justru pada saat young na di amerika. Aku menyempatkan bertelepon atau bertemu online dengannya minimal satu kali dalam sehari. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Aku membuatnya melepas cita-citanya menjadi seorang pianis dan kini aku membiarkannya sendiri berjuang di negeri orang. Tanpa omma, appa, aku dan ahjussi. Terkadang bila aku menelponnya, aku bisa mendengar suaranya parau. Aku tau dia baru saja menangis tapi dia hanya berkata ‘disini sangat dingin oppa. Aku berkali-kali kena flu’. Dia berbohong. Tapi disisi lain aku juga mengkhawatirkan hal itu. Dia sangat lemah dari kecil. Sangat berbeda denganku. Makanannya harus sangat diatur karena dia punya banyak sekali alergi. Dan bila aku mengingat hal itu aku semakin mengutuk diriku sendiri.

“yoboseo?ah oppa.. waegereyo?” Young Na mengangkat teleponnya. Aku berniat bertanya tentang namja yang memeluknya tempo hari di bandara.

“Young na, kau punya namja chingu??”

“mwo?” dia agak sedikit kaget.

“anieyo oppa. Aku tidak punya namja chingu saat ini” aku tidak melanjutkan pertanyaanku. Mungkin dia belum benar-benar bercerita semuanya padaku.

3 tahun sudah berlalu. Hari ini adalah hari ulang tahunku. Omma sudah menelpon ku tadi pagi. Semua member tentu saja sudah memberiku ‘surprise’ berupa pengkuncian dikamar mandi yang di pimpin oleh heechul hyung. Ryeowook membuatkan kue tart yang belum sempat aku makan karena schedule yang sangat padat. Hari ini aku harus latihan untuk comeback stage super junior di album ke empatnya seminggu lagi.

Ada dua orang yang belum memberiku ucapan selamat hari ini. Appa dan Young na. aku tidak berharap banyak appa akan menelponku tapi kenapa young na sama sekali belum menelpon.

“mungkin dia sangat sibuk dengan tugas kuliahnya. Dia tidak mungkin lupa”

Super junior latihan di gedung SM entertainment. Dari lantai 2 tempat latihan bisa langsung melihat keadaan luar gedung SM Entertainment. Dan saat ini banyak sekali ELF yang duduk menunggu di sepanjang jalan. Aku melambaikan tanganku pada mereka dari dalam tempat latihan. Mereka berteriak sambil mengangkat balon sappire blue. Aku mendengar mereka mengatakan ‘saengil chukahamnida Lee sungmin’.

aku masih memegang I-phone ku. Aku tidak ingin melewatkan telepon dari Young Na.

~bounce to you bounce~
Ada panggilan masuk. Bukan nomer yang ku kenal. Padahal yang tau nomer telepon ku hanya members super junior, omma dan Young na. nomer telepon di I-phone ku ini memang hanya untuk orang-orang spesialku saja. Tidak mungkin nomerku bocor ke ELF. Lama aku tidak mengangkatnya.

“Hyung.. waegereyo? Teleponmu berbunyi. Apa kau tidak menyadarinya?” Kyuhyun mendekatiku dan melihatku aneh

“Ya! tentu saja aku tau! Pabbo! Tapi aku tidak mengenal nomernya”

“angkat saja hyung..kalo orang iseng, langsung matikan saja” benar kata kyu. Aku mengangkat teleponku dan kaget saat aku pertama kali mendengar suaranya.

“oppa.. kenapa kau lama sekali mengangkat telepon mu?” dia memanggilku oppa. Tapi tidak mungkin. Ini nomer korea, bukan nomer amerika.

“yoboseo?oppa??”

“Lee Young Na??” aku akhirnya berhasil mengeluarkan suaraku

“Ne…oppa.. ini aku Young na.. saengil chukahamnida oppa… sekarang kau sedang latihan ya oppa? Kau terlihat capek”

“eh…ne?terlihat?kau melihat oppa?” aku celingukan melihat sekitar tempat latihan. Young Na tertawa.

“Ya! dimana kau?” aku berteriak yang membuat member super junior yang berada di tempat latihan melihatku sekarang.

“lihat ke luar jendela oppa. Bisa temukan aku dikerumunan ELF ini?” aku memandang keluar jendela. ELF saat ini sangat banyak. Ditambah lagi mereka membawa poster, nama dan balon sapphire blue. Aku mencari sosok Young na tapi aku tetap tidak menemukannya.

“oppa… lihat ke arah jam 2 mu. Sudah melihatku?” aku melihatnya! Ah rambutnya sekarang pendek. Dia benar-benar cantik

“saengil chukahamnida oppa… aku sangat merindukanmu.. bisakah kita bertemu di lobby SM Entertainment?” aku terdiam. Dia mau bertemuku di tempat umum. Dia sudah mau terbuka sekarang.
“oppa.. kau masih disana??oppa?” aku tersadar dari lamunanku

“eh… ne! cepatlah kesini. Oppa menunggumu di lobby” aku menutup teleponku. Tapi baru saja aku membalikan tubuhku aku mendengar decit mobil dan suara teriakan.

Jantungku berdegup cepat. Aku berlari kembali ke jendela dan aku melihat tubuh Young Na tergeletak di jalan dengan berlumuran darah. Tubuhku menegang dan tanpa pikir panjang aku berlari. Pikiranku benar-benar kalut. Aku meyakinkan diriku sendiri itu bukanlah sosok Young Na. aku menerobos kerumunan orang. Aku tidak peduli ELF berteriak karena melihatku tanpa pengawalan bodyguard berada sangat dekat dengan mereka. Aku terus berusaha melihat siapa orang yang tertabrak dan seketika lututku lemas saat melihat tubuh yang sekarang tak bergerak itu adalah Young na.

Aku berlutut memegang tubuhnya. Aku mendekatkan wajahku pada mukanya. Aku merasakan dia masih bernafas. Tenggorakanku tercekat. Aku tidak bisa mengatakan apapun bahkan kata-kata untuk berteriak ‘cepat panggil ambulance’ aku tak bisa.

“Sungmin! Apa yang kau lakukan!! Cepat bawa dia ke mobil!! Heechul sudah ada di dalam mobil! Kita langsung ke rumah sakit” Leeteuk hyung berkata sambil membantuku membawa Young na. keadaan disekitar tempat ini masih sangat penuh sesak. Dan ternyata semua member sekarang sedang berusaha mencarikan jalan untukku dan leeteuk hyung yang sekarang membawa young na.

Aku sampai dimobil dan sekarang tubuh young na ada dipangkuanku. Aku memegang erat telapak tangannya.

“Young na…young na…bangunlah…oppa mohon…young na” aku terus memanggilnya. Sekarang bajuku penuh dengan darah young na. aku merasa darah mengucur dari pelipis kepalanya. Tapi aku tau young na masih hidup.

“young na…ini ulang tahun oppa.. tolong bangunlah… ucapkan selamat ulang tahun pada oppa secara langsung…oppa mohon…” air mataku menetes sekarang. Aku sangat takut hal terburuk menimpa adik satu-satuku ini.

Heechul hyung mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Aku tidak sempat memikirkan apa-apa lagi. Aku hanya ingin Young na cepat mendapat pertolongan.

“tolong jangan tinggalkan oppa…oppa sangat menyayangimu young na…oppa mohon…” aku mengatakan kata-kata itu tepat di telinganya sesaat sebelum young na dibawa ke ruang gawat darurat.

Aku menunggu didepan ruang operasi. Semua member super junior dan manajer juga ikut menemaniku. Bajuku masih penuh dengan darah segar Young na. aku tidak mempedulikan omongan kyu yang menyuruhku untuk berganti pakaian. Aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Aku benar-benar takut saat aku kembali ketempat ini, aku hanya akan menemui sosok young na yang sudah tidak bernyawa lagi.

“tuhan… aku mohon padamu… jangan ambil dia sekarang…aku mohon…aku belum menjadi oppa yang baik untuknya…aku mohon…”aku terus berdoa. Aku meneteskan air mataku.
“Kau boleh ambil semua milikku. Popularitas, harta, kepintaran…aku tidak membutuhkannya! Aku hanya ingin adikku.. aku mohon…jangan ambil dia…aku masih membutuhkan tawanya…aku masih membutuhkan sosoknya… aku mohon tuhan…” tubuhku gemetar. Saat ini aku hanya bisa berdoa…
2 jam kemudian pintu operasi terbuka. Dokter keluar dan langsung bertanya siapa anggota keluarga pasien.

“dia bisa diselamatkan…tapi…kemungkinan dia akan cacat permanent...” badanku lemas. aku jatuh terduduk. Pertahananku benar-benar runtuh sekarang.

“mengapa harus Young na yang kembali menderita?” aku berlutut masih didepan ruang operasi.

- Lee Young Na POV-

Besok oppa berulang tahun. Aku memutuskan untuk pulang ke korea. Aku ingin memberikan kejutan pada oppa. Aku juga ingin berkenalan secara langsung dengan member super junior yang lain. Aku sering mendengar mereka memanggil-manggil namaku saat oppa sedang menelponku. Aku sudah pernah berbicara dengan donghae oppa, kyuhyun oppa dan eunhyuk oppa. Mereka semua sangat baik. Aku merasa seperti sudah lama mengenal mereka.

Aku langsung menuju gedung SM entertainment. Disana sudah sangat banyak ELF yang menunggu super junior. aku melihat oppa melambaikan tangannya kea rah ELF dari lantai 2 gedung SM entertainment. Oppa sangat keren. Dia bertambah keren untuk persiapan album ke empat super junior ini. Aku ingin tau reaksinya saat melihat aku sudah ada di korea saat ini. Aku menelponnya tapi tidak diangkat. Aku lupa, aku memakai nomer lain. Oppa tidak akan mengangkatnya bila nomernya tidak diketahui. Sesaat sebelum aku ingin mematikan teleponku, oppa menjawab teleponku.
Aku ingin tertawa saat oppa terlihat shock mengetahui aku sudah berada di korea. Mukanya terlihat kebingungan saat mencariku diantara ratusan ELF yang sedang menunggu Super junior didepan kantor SM Entertainment.

Oppa menemukanku. Aku mengatakan akan bertemu oppa di lobby. Aku berlari tanpa memperhatikan dengan betul keadaan jalan pada saat itu. Dalam sekejab aku merasa tubuhku terbentur sesuatu yang berat dan aku merasa tubuhku beradu dengan aspal jalan. Penglihatanku membuyar. Aku hanya mendengar suara dengingan yang memekakan telinga.

Sekarang aku seperti melihat slide-slide kehidupanku. Aku yang diajak main oppa sewaktu kecil karena tidak punya teman. Omma yang memarahi ahjussi karena lupa telah menaruh minyak ikan ke makananku yang membuatku sesak nafas untuk beberapa saat. Appa yang memberikanku hadiah seekor kucing saat ulang tahunku yang ke delapan tahun. Halboji yang mengendongku bila aku sedang menangis dan halmonie yang menyuapiku kimchi setiap aku makan. Aku meneteskan air mataku. Aku merindukan mereka.

“Young Na…” aku merasa seseorang memanggilku

“Halboji…halmonie…”aku memeluk mereka erat. Aku merindukan mereka. Tapi aku merasa tubuh mereka sangat dingin.

“halboji…halmonie…apakah kalian kedinginan?badan kalian sangat dingin..” aku sangat mengkhawatirkan mereka.

“anieyo Young na… kami semua baik-baik saja…apakah kau meerindukan kami? mau ikut halmonie dan halboji ketempat yang lebih indah dan tenang?” aku terdiam. Aku sangat merindukan nenek dan kakekku ini.

“meong…meong…” aku merasakan bulu halus mengelus-ngelus kakiku. Minnie!! Itu kucingku!

“Minnie..aku merindukanmu…jangan tinggalkan aku lagi!! Arra?”aku menggendongnya.

“apa halboji dan halmonie yang selama ini merawat Minnie?” mereka mengangguk.

“apa kau tidak mau merawat Minnie dengan tanganmu sendiri?” halmonie bertanya padaku

“tentu saja aku mau halmonnie” aku memeluk Minnie semakin erat.

“kalau begitu…ayo ikut halmonnie dan halboji…” mereka sudah mengandeng tanganku. Aku masih terdiam ditempatku.

“halmonie..halboji..dimana omma..appa dan oppa?” mereka hanya menjawab dengan senyuman.

“mereka pasti akan menyusul kita nanti…”Halboji memegang pundakku.

“Tapi aku belum mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung pada oppa” aku mendengar seseorang memanggilku. Sepertinya dari tempat sangat jauh karena aku hanya mendengarnya sayup-sayup.

“Oppa!! Itu suara oppa!” aku berteriak girang dan memandang ke arah halboji dan halmonie. Mereka hanya tersenyum.

“Young na…. Lee young na….ini oppa….kau belum mengucapkan selamat ulang tahun pada oppa… kau juga belum memberi oppa hadiah…Young Na… apakah kau mendengar oppa?” suaranya semakin jelas. Aku mendengar setiap kata yang diucapkan oppa. Aku merasakan suara oppa seperti orang yang sangat-sangat sedih.

“halboji..halmonie..tidak bisakah kita pergi bersama oppa?”

“tidak bisa Young na…” Halboji menjawab sambil memegang rambutku.

“aku tidak bisa meninggalkan oppa halboji…aku ingin bertemu dengannya…”

“berarti kau tidak mau ikut halboji, halmoni dan Minnie?” halmonie hampir menangis sekarang.

“aku akan ikut kalian…pasti aku akan ikut kalian…tapi tidak sekarang…biarkan aku mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan suatu kado untuk sungmin oppa..” aku membiarkan Minnie lepas dari tanganku. Aku memandang halboji dan halmonie

“aku pasti akan bersama kalian…tolong tunggu aku…dan tolong rawat Minnie sampai aku benar-benar bisa merawatnya sendiri…”oppa melepaskan tangannya dari pundakku.
-To be continued-

(FF-part 2 of 4- PG+13) What if


“jangan korbankan cita-citamu hanya untuk membuat oppa kembali ke rumah ini lagi young na…karena percuma saja..semuanya sudah sangat rumit untuk bisa diselesaikan…”

ini lah point sensitive itu! Aku benar-benar ingin keluarga ini kembali seperti semula. Aku ingin rumah ini hidup lagi dan bukan hanya aku yang hidup di rumah ini. Aku menahan air mataku tapi air mata ini sudah keluar sekarang. Aku menunduk dan menenggelamkan wajahku dibalik tanganku. Aku menahan tangisku agar tak terisak. Aku bukan gadis kecil lagi dan akan sangat memalukan bila harus menangis di depan orang lain sekalipun oppaku sendiri. Tapi air mata ini benar-benar tak bisa dihentikan sekarang. Baru tadi aku sangat-sangat berniat menyatukan keluarga ini tapi sekarang rasanya semua itu sudah sia-sia sebelum benar-benar dimulai. Aku masih sekuat tenaga menahan tangisku agar tak terisak tapi kurasakan tangan oppa memegang bahu kiriku dan menarikku kedalam pelukannya. Pelukan ini sudah lama sekali tidak aku rasakan.

‘Aku benar-benar merindukanmu oppa. Tolong kembalilah…’ Aku benar-benar terisak sekarang.

“hanya ini caraku agar oppa dan appa tidak bertengkar lagi…aku benar-benar sudah kehabisan akal oppa…”lanjutku.. dada ini terasa sakit sekali sekarang. Aku merindukan semuanya..

- Lee Sungmin POV-

Aku meminta ijin pada teukie hyung untuk tidak ikut latihan hari ini. Young na menelpon dan mengatakan appa dan omma akan pulang. Aku benar-benar ingin pulang. Anii..aku bukan hanya ingin pulang tapi aku ingin kembali ke keluarga itu. Keluarga yang seutuhnya.

Aku sampai didepan sebuah rumah. Megah. Sangat megah. Tapi aku tau, sehari-hari hanya ada 1 orang yang masih berusaha membuat suasana di rumah ini hidup. Lee young na. my dongsaeng. Adik perempuanku satu-satunya. Setelah aku pergi dari rumah dia benar-benar sendirian dirumah. Tinggal dengan puluhan pelayan tanpa ada satu anggota keluargapun yang menemaninya. Bila ada yang bertanya kakak macam apa aku ini? Aku benar-benar bukan oppa yang baik untuknya.

Aku masuk kerumah itu dan langsung menuju ruang keluarga yang dulu sangat ramai. Penuh canda tawa. Tapi sekarang hanya berisi foto-foto keluarga yang seakan tidak berharga lagi. Aku mempercepat langkahku agar tak melihat foto itu. Tapi aku tak bisa mengalihkan perhatianku di foto keluarga yang sangat besar yang dibingkai indah ditengah ruangan. Foto saat berlibur di Jepang. Semuanya tertawa bahagia. Tawa itu sangat aku rindukan.

“tuan muda.. Tuan dan nyonya sedang bersantai di ruang keluarga utama” pelayan yang sudah sangat lama bekerja untuk rumah ini. Yang sudah aku dan young na panggil ahjussi. Dia yang menemani young na selama ini. Mungkin saja Young na lebih menganggap ahjussi sebagai keluarganya dibanding aku, omma dan appa.

Appa menyambutku dengan dingin. Tidak ada kata-kata yang menyejukan dan menenangkan pikiranku lagi bila aku dekat dengan appa. Yang ada sekarang hanyalah pertengkaran dan ucapan-ucapan bernada emosi. Aku seperti tidak lagi mengenalnya.

“Sungmin-ah.. duduklah…sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu nak?” aku mendengar nada takut dan lelah di suara omma. Aku tau, omma juga bisa merasakan bara pertengkaran yang masih tetap ada diantara appa dan aku.

“aku baik-baik saja omma.. maafkan aku tadi tidak bisa menjemput di bandara”

“anii.. gwencana…” tidak ada pembicaraan setelah itu. Aku tidak melihat young na. dia pasti di kamarnya.

“mau apa kau kesini? Bukankah grup SUPER JUNIOR mu itu sedang sibuk-sibuknya?” penekanan pada kata super junior benar-benar memperlihatkan kebencian appa.

“tenang saja appa. Aku juga disini karena young na yang meminta pada ku. Aku sebentar lagi akan pulang ke dormitory” aku tersulut emosi

“Ya!! KAU!!SUPER JUNIOR MU ITU BENAR-BENAR SUDAH MERUBAH JALAN PIKIRANMU HAH?!APPA TIDAK HABIS PIKIR! KAU LEBIH MEMILIH MENJADI PENYANYI DAN MELEPASKAN IMPIAN KELUARGA INI AGAR KAU BISA MENJADI PENERUS DARI PERUSAHAN INI!” appa mulai berteriak padaku

“bukan impian keluarga ini. Tapi itu adalah impian appa.” Aku menjawab ketus.

“KAU!” appa tidak melanjutkan ucapannya. Suara gaduh menghentikan pertengkaran ini dan kulihat Young na berlari dari kamarnya di lantai 2. aku sangat rindu padanya. Aku sama-sama hidup di Seoul tapi sangat jarang bertemu dengannya.

Young na secara mengejutkan mengatakan bahwa dia akan melanjutkan kuliahnya di Amerika. Dan pada saat itulah aku mengutuk diriku sendiri. Aku benar-benar membuat semuanya menjadi rumit dan sekarang aku harus rela impian adikku sendiri kandas demi menyelamatkan keluarga ini.

“what if…Oppa bukan member super junior mungkin semuanya tidak akan serumit ini” ucapku lirih pada gadis yang kupeluk saat ini. Tangisnya benar – benar pecah sekarang dan aku merasakan rasa sakit ini semakin menjadi.

Semua member super junior mengenal young na walaupun mereka tidak pernah melihat sosok Young na secara langsung karena memang Young na tidak pernah mau dikenalkan kesiapapun. Sangat berbeda dengan noona dan dongsaeng dari member super junior yang lain. Mereka sangat akrab satu sama lain. Sudah seperti keluarga. Dan parahnya Young Na Aku tak pernah tau alasannya.

Aku menaruh foto young na di kamarku. Dan anggota Super junior hanya berkomentar ‘kau sangat sayang pada adikmu tapi kenapa kalian tidak pernah benar-benar dekat?adikmu benar-benar cantik’ aku pernah sangat dekat dengannya. Walaupun sejak kecil aku dan dia tidak pernah satu sekolahan. Dia tidak pernah mau bersekolah di satu sekolah yang sama denganku. Dia lebih memilih bersekolah disekolah biasa. Kalangan biasa. Dia benar-benar gadis yang sangat manis dan senang tersenyum pada siapapun. Hatinya benar-benar tidak pernah ternoda sedikitpun dari rasa sombong. Dia rela memberikan semua uang tabungannya untuk membantu sebuah panti asuhan yang sudah akan ditutup tanpa bantuan appa. Tapi sikapnya sangat tertutup pada teman-temannya. Bahkan aku tidak pernah melihat ada teman-temannya yang pernah datang ke rumah. Sekali lagi aku tak pernah tau alasannya.

aku berjanji akan menemaninya hari ini. Hari terakhirnya di korea..

- Lee Young Na POV -

~ Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do) Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do) nuhreul jikyuhjulge (I do) ~

“ ini masih terlalu pagi untuk menelpon” aku mengomel saat mengangkat telepon

“yoboseo?”

“kau belum bangun? Sudah jam berapa ini? Kau mau menghabiskan hari terakhirmu dikorea hanya untuk tidur?” seseorang mengomel diseberang telepon. Aku langsung melihat layar teleponku dan terdapat nama ‘my sungmin oppa’. Seketika aku langsung bangun dari tidurku. Kantukku lenyap seketika.

“ne?mworago?..mianhae..oppa.. tapi ini masih jam 8 pagi oppa..”aku kelabakan sendiri. Oppa menelponku pagi-pagi bukan hal yang sering dilakukan seorang lee sungmin.

“oppa menunggumu sarapan dibawah. Langsung mandi!Palliwa!” telepon terputus. Aku masih terdiam. Mencerna setiap kata yang baru saja aku dengar.

‘Mwo?oppa ada disini?’ aku melompat dari tempat tidur dan langsung keluar kamar untuk memastikan apa yang tadi saja aku pikirkan. Dan memang benar. Sungmin oppa ada disini! Dirumah ini! Aku langsung menuruti perintah. Setelah selesai mandi aku langsung turun dengan terburu-buru. Entahlah. Aku seakan takut oppa tiba-tiba berubah pikiran dan pergi sebelum aku menemuinya.

“bisakah tidak berlari-lari dirumah?” aku hanya menjawab dengan senyum. Ini memang kebiasaanku yang tidak pernah bisa hilang. Membuat gaduh. Aku hanya ingin membuat suasana dirumah ini ramai. Dengan aku membuat gaduh, seisi rumah pasti akan mulai mengomel dan aku sangat menikmati suasana seperti itu. Karena aku merasa sangat diperhatikan bila mereka sedang mengomel.

“semuanya sudah siap?kalo masih ada yang kurang, oppa akan menemanimu membelinya” aku tersedak saat oppa mengatakan hal itu.

“mwo? jinjaro oppa?oppa akan menemaniku hari ini?” aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Tapi perasaan khawatir ini muncul lagi..

“Ne… Lee young na..” oppa meneruskan makannya

“arraseo! Kalo begitu oppa harus memakai kostum yang sudah aku siapkan” oppa menatapku aneh

“kostum?apa maksudmu? Oppa pakai pakaian ini saja!”

“ahjussi… bisa tolong ambilkan pakaian sungmin oppa?” ucapku dengan memberi kedipan mata pada pelayan yang sudah aku anggap pamanku sendiri ini. Dan ahjussi mengangguk tanda mengerti.
Ahjussi kembali dengan membawa semua yang memang dari dulu sudah aku siapkan. Aku lupa sudah aku siapkan dari kapan pakaian ini. Aku sangat ingin jalan dengan oppa ku. Tapi tidak dengan Lee sungmin Super junior. aku ingin jalan dengan oppaku yang aku kenal sebelum debut sebagai super junior. yang tidak dikenal oleh siapapun. Sekarang didepan sungmin oppa sudah ada kaos, jaket, penutup mulut dan kacamata yang sewaktu SMA pernah oppa pakai.

“Ya!! iko mwoya? Andwae! Oppa tidak akan memakainya. Oppa akan tetap memakai pakaian ini”

“oppa…aku hanya mau jalan denganmu tanpa seorangpun tau oppa adalah anggota super junior” aku memang sangat tidak suka ada orang lain yang memperhatikanku selain keluargaku sendiri. Aku tidak suka orang lain tau aku adik lee sungmin dan anak dari pengusaha sukses Lee.

“memangnya kenapa? Aku tinggal bilang lewat cyworld kalau kau adikku. Semuanya beres” aku terdiam. Kembali menghabiskan makananku yang masih tersisa. Aku tidak pernah bisa memaksa oppa.

“arraseo…arraseo…oppa akan memakainya” aku tersenyum dan oppa pergi untuk mengganti pakaiannya.

‘tuhan…bila kau bisa menghentikan waktu ini…tolong hentikan waktunya sekarang…agar aku bisa terus merasa sebahagia ini…’ pintaku dalam hati

Aku memilih berbelanja pakaian musim dingin di Lotte mall. Mulanya aku masih menikmati hang out bareng oppa karena memang ini pertama kalinya aku jalan dengannya setelah ia debut. Oppa sudah menyamar dengan sangat rapi dan aku pun ikut-ikutan menyamar untuk menghindari kemungkinan terburuk. ELF masih mengenali sungmin oppa. Dan benar saja. Keadaan tidak sesuai seperti yang aku harapkan…

Sekarang semua orang sedang menatapku dan oppa.

“oppa..aku mohon bawa aku keluar dari tempat ini…” aku meminta dalam hati..

oppa membawaku ke sebuah restaurant untuk meghindari ELF tapi ternyata sekarang mereka sudah mulai mengerubungi restaurant dan bersiap dengan HP berkamera di tangan mereka. Aku sudah mulai pusing. Aku benar-benar tidak ingin mereka tau siapa aku.

“pakai jaket oppa! Tutupi kepalamu dengan tudung kepala. Kita keluar dari restaurant ini sekarang.” Sungmin oppa menaruh jaket dibadanku yang sekarang seperti hilang akal karena aku hanya bisa diam. Oppa mendekatkan mukanya pada mukaku dan memegang pipiku

“gwencanayo.. oppa tidak akan pernah bilang bahwa kau adalah adikku. Sekarang kita harus pergi.” Oppa meraih tanganku dan aku hanya menyembunyikan wajahku layaknya seorang tahanan. Aku benar-benar takut. Tanpa kusadari oppa sudah merangkul pundakku. Mendekatkan tubuhku dengannya saat akan melewati ELF yang sudah siap dengan kameranya. Aku mendengar teriakan nama oppa dan tentu saja mereka semua bertanya ‘nuguseyo oppa??itu yeoja chingumu?” wajahku benar-benar pucat sekarang.
Aku dan oppa berlari kecil untuk menghindari serbuan ELF dengan oppa masing merangkulku erat. Sesampainya di mobil aku masih tidak bisa berkata apa – apa.

“gwencana??Ya! Lee young na…gwencana?” aku hanya menjawab dengan anggukan.

- lee sungmin POV-

“sial! Kenapa mereka masih mengenaliku??”aku sekarang menuju ke sebuah restaurant untuk menghindari tatapan-tatapan curiga padaku dan Young na. benar saja penyamaranku gagal karena sekarang diluar restaurant sudah sangat banyak orang yang memandangku dan gadis yang sekarang berada didepanku.

Young na terlihat sangat takut. Dia terus menundukan wajahnya menghindari sorotan mata mereka dengan rambut panjangnya yang sekarang tergerai. Aku sangat ingin bertanya padanya kenapa dia sangat takut orang lain tau bahwa dia adalah adik seorang lee sungmin. Dia tidak jelek. Seperti member super junior bilang dia malah sangat cantik. Tapi aku mengurungkan niatku karena sekarang gadis didepanku benar-benar seperti mayat hidup. Wajahnya sangat pucat. Aku menaruh jaketku padanya dan menyuruhnya memakai tudung kepala di jaketku. Aku memegang tangannya yang sekarang sangat dingin. Aku menggandengnya keluar dari restaurant tapi sepertinya akan sangat tidak aman bila seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekatkan tubuhnya denganku agar aku bisa benar-benar melindunginya. Aku bisa mendengar mereka menyebut-nyebut namaku dan bertanya siapa gadis yang sekarang aku peluk ini. Aku hanya bisa menjawab mereka dengan senyuman.

Sesampainya di mobil, Young na masih tidak berbicara. Dia masih sangat shock. Setelah di mengangguk dan mengatakan dia tidak apa-apa aku memutuskan untuk langsung pulang. Aku sama sekali tidak memikirkan omelan manajer nanti karena kejadian ini. Aku hanya ingin melindungi adikku. Setidaknya sebelum dia pergi ke Amerika.

Aku membantunya berkemas dikamarnya. Kamarnya masih tetap sama. Berwarna pink dengan semua stuff yang juga dominant pink. Ini lah salah satu alasan mengapa aku juga menyukai warna pink. Karena young na juga sangat suka warna pink. Setiap melihat warna pink, yang ada dipikiranku hanya Young na. dan setiap melihat warna pink, aku juga merasa Young Na sedang memikirkan ku.

~ Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do) Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do) nuhreul jikyuhjulge (I do) ~

telepon young na berdering. Dia memakai nada dering Marry You pada lyric yang dinyanyikan olehku.

“yoboseo? Ah… omma..” wajahnya riang saat menerima telepon ini. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah muram

“ah… arraseo omma.. gwencana.. aku besok akan diantar ahjussi..ne, omma.. saranghaeyo omma…appa…” dia menutup teleponnya.

“waegereyo??”

“omma dan appa tidak bisa mengantarku besok. Rencananya omma akan pulang hari ini tapi ternyata appa akan bertemu klien di China dan omma tidak tega bila harus meninggalkan appa mengurus semuanya sendiri.”

‘sial!! Dan aku besok juga tidak bisa mengantarnya!’ aku mengutuk diriku sendiri.

“Bukankah oppa besok akan ke China juga? Aku melihat schedule super junior via internet kemarin” omongan young na membuyarkan lamunanku. aku terdiam. Sekali lagi aku mengecewakannya

“Ne..oppa besok harus berangkat dan jamnya keberangkatannya ternyata juga sama dengan pesawatmu. Mianhae Young na…” aku sekarang melihatnya yang duduk disamping tempat tidurnya. Diam. Menghentikan aktivitas berkemasnya.

“gwencana oppa..” aku mendengar nada kecewa dikata-katanya. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.

‘aku benar-benar bukan oppa yang baik untukmu Young na..jongmal mianhae..’ kata-kata itu tersendat di tenggorokanku.

Jam 9 pagi aku dan member super junior yang lain sudah berada di bandara. Seperti biasanya ELF juga sudah stand by disana. Tapi kali ini perhatian mereka lebih kepadaku. Akibat insiden kemarin, ELF masih penasaran siapa yeoja yang bersamaku. Aku hanya menulis ‘aku sedang bersedih…sekarang aku single lagi…kita putus’ di Cyworld ku. Biarlah mereka berspekulasi siapa mantan pacarku daripada berspekulasi siapa adikku.

Aku melambaikan tanganku pada ELF sesaat sebelum benar-benar pergi tapi pandangan mataku terhenti di dua sosok yang sekarang sedang berpelukan.

“Young Na!!dengan siapa dia? itu bukan ahjussi!! Ah!!sial aku tidak bisa mendekatinya!! Dan namja itu kenapa seperti menyamar?pakaiannya sangat tertutup dengan topi, kacamata dan masker!” sesaat aku terus menatap mereka. Aku benar-benar ingin tau siapa namja itu tapi berarti sama saja aku membunuh adikku sendiri.

“siapa namja itu?aku tidak pernah tau Young Na punya pacar! Anii.. dia bahkan tidak pernah punya teman dekat! Haaaiiisssh… situasi ini membuatku gila!”pikiranku benar-benar kalut.

“Hyung..palliwa..kita harus sudah pergi” Ryeowook menyenggol tanganku tanda memperingatkan.
-to be continued-

(FF-part 1 of 4- PG+13) What if



Alunan piano mengalun indah dirumah megah ini. Seorang gadis sangat menikmati jari-jarinya menyentuh tuts piano. Dengan sesekali dia melihat keluar jendela. Sepi. Dia merasa hanya dirinya sendiri yang ada di dunia ini.

“nona… sarapannya sudah siap” seorang pelayan mendekatinya dan berkata dengan sangat sopan dan halus. Gadis ini menghentikan permainan pianonya.

“ne..ahjussi..aku akan segera makan” dia tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada kursi roda yang tepat berada di sebelahnya. Dia berusaha mencapai kursi roda itu tapi badannya terlalu lemah. Si pelayan sudah akan maju untuk membantu tapi gadis itu menolak halus.

“tidak usah ahjussi..aku harus bisa sendiri..kalo begini saja aku tak bisa, aku benar-benar bukan orang yang berguna” sambil terus berusaha akhirnya gadis itu bisa memindah posisinya.

Di ruang makan, terdapat bingkai foto keluarga. Gadis itu tersenyum sebelum menyatap hidangannya.
“appa…omma…oppa… jalmokelsemnida” ada suara rindu yang teramat sangat disitu. Gadis itu berusaha memakan makanannya dengan lahap, tapi rasa kangen itu semakin menguat..

“what if……”gumamnya..

= flash back =

- Lee young na POV-

Aku bersemangat pagi ini. Tadi malam omma menelpon mengabarkan kalo omma dan appa akan pulang ke korea untuk sementara waktu. Appa adalah seorang pengusaha sukses di korea dan jepang tapi appa lebih sering di Jepang karena ingin lebih melebarkan sayap bisnis nya disana dan Omma selalu menemani appa. Aku terbiasa dengan keadaan ini. Sepi. Sendiri.

“annyong… oppa.. hari ini appa dan omma akan pulang dari jepang. Bisakah ikut aku menjemput mereka di airport?” ucapku antusias melalui telepon

“mianhae.. oppa tidak bisa..” singkat. Aku tau alasannya.

“ah…arraseo.. tapi nanti oppa pulang ya untuk bertemu dengan mereka” ucapku sebelum mengakhiri pembicaraanku dengan oppa ku satu-satunya ini. Dia tidak menjawab.

“kalo oppa tidak menjawab berarti oppa akan pulang!! Sampai bertemu dirumah oppa” aku menekan tombol merah di hapeku.

‘dia pasti pulang. Aku tau oppa juga pasti kangen appa dan omma’

Appa dan omma datang dengan bawaan yang tak terlalu banyak. Bisa dilihat tasnya hanya berisi beberapa helai baju. Tentu saja dirumah masih ada baju mereka tapi ini terlalu simple. Benar saja. Mereka hanya 2 hari di korea. Dan saat aku tau itu, aku sangat ingin oppa berada disini.

Aku berada dikamarku saat kudengar suara bentakan dari ruang keluarga. Rumah ini memang sangat besar tapi terlalu sepi sehingga suara sekecil apapun bisa terdengar. Aku tau itu suara bentakan appa. Aku berlari dari kamarku.

‘oppa…! dia pasti datang!’ aku berlari hingga menimbulkan suara gaduh. Aku melihat oppa duduk berhadapan dengan omma dan appa.

“ada apa ini?” tanyaku masih sambil mengatur nafas

“ya! anak kecil! Kembali ke kamarmu!” oppa menyuruhku kembali ke atas. Aku tak bergeming. Ku alihkan tatapan mataku pada omma, tapi omma tak mengatakan apa-apa. Tangan omma memegang tangan appa tanda menenangkan emosi appa.

“ada apa ini?” Tanya ku ulang “masih masalah perusahan lagi” lanjutku. Sekarang mereka semua menatapku. Aku tau. Pasti masalah ini.

“Lee young na, tidak usah ikut campur” oppa kembali memperingatkanku. Aku hanya tersenyum dan memilih duduk disamping oppa daripada kembali ke kamar

“kenapa kalian semua selalu memperlakukanku seperti anak kecil? Aku sudah kelas 3 Sma.. ah, anii.. aku sudah lulus. Seminggu lagi aku lulus. Dan kalian masih terus mengira aku anak kelas 2 SD yang menangis setiap mendengar bentakan?”

“anak ini! Oppa bilang diam!”

“arraso..kalo tidak ada yang mau mengatakannya padaku, aku yang akan mengatakan sesuatu hal..” aku terdiam sebentar

“hmm…. Aku memutuskan, mengambil kuliah manajemen di amerika” ucapku mantap. Omma dan appa terlihat shock mendengar berita ini. Dan aku bisa merasakan oppa menatapku tajam saat ini.

“Young na… ada apa ini sayang?”omma mulai membuka mulutnya. Aku bisa mendengar nada kelelahan disuara omma. Aku tau omma pasti juga lelah dengan pertengkaran anak dan ayah ini.

“anii…aku hanya ingin mengurus perusahan appa kelak…” aku tersenyum. Sebisa mungkin tidak memperlihatkan kesedihanku.

“jangan main-main young na! ini perusahan besar!” appa berkata tegas. Sekali lagi appa tidak mempercayaiku. Aku tau aku tidak punya otak sepintar oppa tapi Cuma ini caraku untuk membuat keluarga ini bersatu lagi. Membuat oppa dan appa tidak selalu meributkan hal yang sama berulang-ulang. Walaupun aku harus mengorbankan impianku selama ini.

“baiklah kalo itu keputusanmu. Besok appa akan urus semuanya. setelah hari kelulusan, kamu langsung pergi ke amerika.” Oppa pergi dari ruangan ini yang disusul oleh omma.

“huuuuaaah…” aku menyandarkan kepala ku ke sofa dan memejamkan mataku. Sebenarnya aku takut melihat tatapan orang disampingku. Tatapan oppa apabila sedang marah sangat menakutkan untukku.

“Ya!! Lee young na! tidak usah berpura-pura tidur” aku membuka mataku dan masih tidak berani menatapnya.

“wae oppa?” aku memberanikan diri menatap sosok disebelahku

“Iko mwoya??jangan bercanda di depan appa. Itu tidak lucu sama sekali”

“anii.. aku serius oppa. Aku akan kuliah di amerika..hmm.. aku akan melihat orang-orang cakep disana!pria-pria berambut pirang! Huuaaaahh.. aku benar-benar tak sabar” ucapku dengan nada antusias. Menutupi rasa takut didalam hatiku. Takut saat meninggalkan rumah ini semuanya malah bertambah rumit. Aku takut…
Oppa terdiam. oppa tidak menatapku lagi kali ini.

“jangan korbankan cita-citamu hanya untuk membuat oppa kembali ke rumah ini lagi young na…karena percuma saja..semuanya sudah sangat rumit untuk bisa diselesaikan…”
-to be continued-