Thursday, 10 March 2011

(FF-part 2 of 4- PG+13) What if


“jangan korbankan cita-citamu hanya untuk membuat oppa kembali ke rumah ini lagi young na…karena percuma saja..semuanya sudah sangat rumit untuk bisa diselesaikan…”

ini lah point sensitive itu! Aku benar-benar ingin keluarga ini kembali seperti semula. Aku ingin rumah ini hidup lagi dan bukan hanya aku yang hidup di rumah ini. Aku menahan air mataku tapi air mata ini sudah keluar sekarang. Aku menunduk dan menenggelamkan wajahku dibalik tanganku. Aku menahan tangisku agar tak terisak. Aku bukan gadis kecil lagi dan akan sangat memalukan bila harus menangis di depan orang lain sekalipun oppaku sendiri. Tapi air mata ini benar-benar tak bisa dihentikan sekarang. Baru tadi aku sangat-sangat berniat menyatukan keluarga ini tapi sekarang rasanya semua itu sudah sia-sia sebelum benar-benar dimulai. Aku masih sekuat tenaga menahan tangisku agar tak terisak tapi kurasakan tangan oppa memegang bahu kiriku dan menarikku kedalam pelukannya. Pelukan ini sudah lama sekali tidak aku rasakan.

‘Aku benar-benar merindukanmu oppa. Tolong kembalilah…’ Aku benar-benar terisak sekarang.

“hanya ini caraku agar oppa dan appa tidak bertengkar lagi…aku benar-benar sudah kehabisan akal oppa…”lanjutku.. dada ini terasa sakit sekali sekarang. Aku merindukan semuanya..

- Lee Sungmin POV-

Aku meminta ijin pada teukie hyung untuk tidak ikut latihan hari ini. Young na menelpon dan mengatakan appa dan omma akan pulang. Aku benar-benar ingin pulang. Anii..aku bukan hanya ingin pulang tapi aku ingin kembali ke keluarga itu. Keluarga yang seutuhnya.

Aku sampai didepan sebuah rumah. Megah. Sangat megah. Tapi aku tau, sehari-hari hanya ada 1 orang yang masih berusaha membuat suasana di rumah ini hidup. Lee young na. my dongsaeng. Adik perempuanku satu-satunya. Setelah aku pergi dari rumah dia benar-benar sendirian dirumah. Tinggal dengan puluhan pelayan tanpa ada satu anggota keluargapun yang menemaninya. Bila ada yang bertanya kakak macam apa aku ini? Aku benar-benar bukan oppa yang baik untuknya.

Aku masuk kerumah itu dan langsung menuju ruang keluarga yang dulu sangat ramai. Penuh canda tawa. Tapi sekarang hanya berisi foto-foto keluarga yang seakan tidak berharga lagi. Aku mempercepat langkahku agar tak melihat foto itu. Tapi aku tak bisa mengalihkan perhatianku di foto keluarga yang sangat besar yang dibingkai indah ditengah ruangan. Foto saat berlibur di Jepang. Semuanya tertawa bahagia. Tawa itu sangat aku rindukan.

“tuan muda.. Tuan dan nyonya sedang bersantai di ruang keluarga utama” pelayan yang sudah sangat lama bekerja untuk rumah ini. Yang sudah aku dan young na panggil ahjussi. Dia yang menemani young na selama ini. Mungkin saja Young na lebih menganggap ahjussi sebagai keluarganya dibanding aku, omma dan appa.

Appa menyambutku dengan dingin. Tidak ada kata-kata yang menyejukan dan menenangkan pikiranku lagi bila aku dekat dengan appa. Yang ada sekarang hanyalah pertengkaran dan ucapan-ucapan bernada emosi. Aku seperti tidak lagi mengenalnya.

“Sungmin-ah.. duduklah…sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu nak?” aku mendengar nada takut dan lelah di suara omma. Aku tau, omma juga bisa merasakan bara pertengkaran yang masih tetap ada diantara appa dan aku.

“aku baik-baik saja omma.. maafkan aku tadi tidak bisa menjemput di bandara”

“anii.. gwencana…” tidak ada pembicaraan setelah itu. Aku tidak melihat young na. dia pasti di kamarnya.

“mau apa kau kesini? Bukankah grup SUPER JUNIOR mu itu sedang sibuk-sibuknya?” penekanan pada kata super junior benar-benar memperlihatkan kebencian appa.

“tenang saja appa. Aku juga disini karena young na yang meminta pada ku. Aku sebentar lagi akan pulang ke dormitory” aku tersulut emosi

“Ya!! KAU!!SUPER JUNIOR MU ITU BENAR-BENAR SUDAH MERUBAH JALAN PIKIRANMU HAH?!APPA TIDAK HABIS PIKIR! KAU LEBIH MEMILIH MENJADI PENYANYI DAN MELEPASKAN IMPIAN KELUARGA INI AGAR KAU BISA MENJADI PENERUS DARI PERUSAHAN INI!” appa mulai berteriak padaku

“bukan impian keluarga ini. Tapi itu adalah impian appa.” Aku menjawab ketus.

“KAU!” appa tidak melanjutkan ucapannya. Suara gaduh menghentikan pertengkaran ini dan kulihat Young na berlari dari kamarnya di lantai 2. aku sangat rindu padanya. Aku sama-sama hidup di Seoul tapi sangat jarang bertemu dengannya.

Young na secara mengejutkan mengatakan bahwa dia akan melanjutkan kuliahnya di Amerika. Dan pada saat itulah aku mengutuk diriku sendiri. Aku benar-benar membuat semuanya menjadi rumit dan sekarang aku harus rela impian adikku sendiri kandas demi menyelamatkan keluarga ini.

“what if…Oppa bukan member super junior mungkin semuanya tidak akan serumit ini” ucapku lirih pada gadis yang kupeluk saat ini. Tangisnya benar – benar pecah sekarang dan aku merasakan rasa sakit ini semakin menjadi.

Semua member super junior mengenal young na walaupun mereka tidak pernah melihat sosok Young na secara langsung karena memang Young na tidak pernah mau dikenalkan kesiapapun. Sangat berbeda dengan noona dan dongsaeng dari member super junior yang lain. Mereka sangat akrab satu sama lain. Sudah seperti keluarga. Dan parahnya Young Na Aku tak pernah tau alasannya.

Aku menaruh foto young na di kamarku. Dan anggota Super junior hanya berkomentar ‘kau sangat sayang pada adikmu tapi kenapa kalian tidak pernah benar-benar dekat?adikmu benar-benar cantik’ aku pernah sangat dekat dengannya. Walaupun sejak kecil aku dan dia tidak pernah satu sekolahan. Dia tidak pernah mau bersekolah di satu sekolah yang sama denganku. Dia lebih memilih bersekolah disekolah biasa. Kalangan biasa. Dia benar-benar gadis yang sangat manis dan senang tersenyum pada siapapun. Hatinya benar-benar tidak pernah ternoda sedikitpun dari rasa sombong. Dia rela memberikan semua uang tabungannya untuk membantu sebuah panti asuhan yang sudah akan ditutup tanpa bantuan appa. Tapi sikapnya sangat tertutup pada teman-temannya. Bahkan aku tidak pernah melihat ada teman-temannya yang pernah datang ke rumah. Sekali lagi aku tak pernah tau alasannya.

aku berjanji akan menemaninya hari ini. Hari terakhirnya di korea..

- Lee Young Na POV -

~ Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do) Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do) nuhreul jikyuhjulge (I do) ~

“ ini masih terlalu pagi untuk menelpon” aku mengomel saat mengangkat telepon

“yoboseo?”

“kau belum bangun? Sudah jam berapa ini? Kau mau menghabiskan hari terakhirmu dikorea hanya untuk tidur?” seseorang mengomel diseberang telepon. Aku langsung melihat layar teleponku dan terdapat nama ‘my sungmin oppa’. Seketika aku langsung bangun dari tidurku. Kantukku lenyap seketika.

“ne?mworago?..mianhae..oppa.. tapi ini masih jam 8 pagi oppa..”aku kelabakan sendiri. Oppa menelponku pagi-pagi bukan hal yang sering dilakukan seorang lee sungmin.

“oppa menunggumu sarapan dibawah. Langsung mandi!Palliwa!” telepon terputus. Aku masih terdiam. Mencerna setiap kata yang baru saja aku dengar.

‘Mwo?oppa ada disini?’ aku melompat dari tempat tidur dan langsung keluar kamar untuk memastikan apa yang tadi saja aku pikirkan. Dan memang benar. Sungmin oppa ada disini! Dirumah ini! Aku langsung menuruti perintah. Setelah selesai mandi aku langsung turun dengan terburu-buru. Entahlah. Aku seakan takut oppa tiba-tiba berubah pikiran dan pergi sebelum aku menemuinya.

“bisakah tidak berlari-lari dirumah?” aku hanya menjawab dengan senyum. Ini memang kebiasaanku yang tidak pernah bisa hilang. Membuat gaduh. Aku hanya ingin membuat suasana dirumah ini ramai. Dengan aku membuat gaduh, seisi rumah pasti akan mulai mengomel dan aku sangat menikmati suasana seperti itu. Karena aku merasa sangat diperhatikan bila mereka sedang mengomel.

“semuanya sudah siap?kalo masih ada yang kurang, oppa akan menemanimu membelinya” aku tersedak saat oppa mengatakan hal itu.

“mwo? jinjaro oppa?oppa akan menemaniku hari ini?” aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Tapi perasaan khawatir ini muncul lagi..

“Ne… Lee young na..” oppa meneruskan makannya

“arraseo! Kalo begitu oppa harus memakai kostum yang sudah aku siapkan” oppa menatapku aneh

“kostum?apa maksudmu? Oppa pakai pakaian ini saja!”

“ahjussi… bisa tolong ambilkan pakaian sungmin oppa?” ucapku dengan memberi kedipan mata pada pelayan yang sudah aku anggap pamanku sendiri ini. Dan ahjussi mengangguk tanda mengerti.
Ahjussi kembali dengan membawa semua yang memang dari dulu sudah aku siapkan. Aku lupa sudah aku siapkan dari kapan pakaian ini. Aku sangat ingin jalan dengan oppa ku. Tapi tidak dengan Lee sungmin Super junior. aku ingin jalan dengan oppaku yang aku kenal sebelum debut sebagai super junior. yang tidak dikenal oleh siapapun. Sekarang didepan sungmin oppa sudah ada kaos, jaket, penutup mulut dan kacamata yang sewaktu SMA pernah oppa pakai.

“Ya!! iko mwoya? Andwae! Oppa tidak akan memakainya. Oppa akan tetap memakai pakaian ini”

“oppa…aku hanya mau jalan denganmu tanpa seorangpun tau oppa adalah anggota super junior” aku memang sangat tidak suka ada orang lain yang memperhatikanku selain keluargaku sendiri. Aku tidak suka orang lain tau aku adik lee sungmin dan anak dari pengusaha sukses Lee.

“memangnya kenapa? Aku tinggal bilang lewat cyworld kalau kau adikku. Semuanya beres” aku terdiam. Kembali menghabiskan makananku yang masih tersisa. Aku tidak pernah bisa memaksa oppa.

“arraseo…arraseo…oppa akan memakainya” aku tersenyum dan oppa pergi untuk mengganti pakaiannya.

‘tuhan…bila kau bisa menghentikan waktu ini…tolong hentikan waktunya sekarang…agar aku bisa terus merasa sebahagia ini…’ pintaku dalam hati

Aku memilih berbelanja pakaian musim dingin di Lotte mall. Mulanya aku masih menikmati hang out bareng oppa karena memang ini pertama kalinya aku jalan dengannya setelah ia debut. Oppa sudah menyamar dengan sangat rapi dan aku pun ikut-ikutan menyamar untuk menghindari kemungkinan terburuk. ELF masih mengenali sungmin oppa. Dan benar saja. Keadaan tidak sesuai seperti yang aku harapkan…

Sekarang semua orang sedang menatapku dan oppa.

“oppa..aku mohon bawa aku keluar dari tempat ini…” aku meminta dalam hati..

oppa membawaku ke sebuah restaurant untuk meghindari ELF tapi ternyata sekarang mereka sudah mulai mengerubungi restaurant dan bersiap dengan HP berkamera di tangan mereka. Aku sudah mulai pusing. Aku benar-benar tidak ingin mereka tau siapa aku.

“pakai jaket oppa! Tutupi kepalamu dengan tudung kepala. Kita keluar dari restaurant ini sekarang.” Sungmin oppa menaruh jaket dibadanku yang sekarang seperti hilang akal karena aku hanya bisa diam. Oppa mendekatkan mukanya pada mukaku dan memegang pipiku

“gwencanayo.. oppa tidak akan pernah bilang bahwa kau adalah adikku. Sekarang kita harus pergi.” Oppa meraih tanganku dan aku hanya menyembunyikan wajahku layaknya seorang tahanan. Aku benar-benar takut. Tanpa kusadari oppa sudah merangkul pundakku. Mendekatkan tubuhku dengannya saat akan melewati ELF yang sudah siap dengan kameranya. Aku mendengar teriakan nama oppa dan tentu saja mereka semua bertanya ‘nuguseyo oppa??itu yeoja chingumu?” wajahku benar-benar pucat sekarang.
Aku dan oppa berlari kecil untuk menghindari serbuan ELF dengan oppa masing merangkulku erat. Sesampainya di mobil aku masih tidak bisa berkata apa – apa.

“gwencana??Ya! Lee young na…gwencana?” aku hanya menjawab dengan anggukan.

- lee sungmin POV-

“sial! Kenapa mereka masih mengenaliku??”aku sekarang menuju ke sebuah restaurant untuk menghindari tatapan-tatapan curiga padaku dan Young na. benar saja penyamaranku gagal karena sekarang diluar restaurant sudah sangat banyak orang yang memandangku dan gadis yang sekarang berada didepanku.

Young na terlihat sangat takut. Dia terus menundukan wajahnya menghindari sorotan mata mereka dengan rambut panjangnya yang sekarang tergerai. Aku sangat ingin bertanya padanya kenapa dia sangat takut orang lain tau bahwa dia adalah adik seorang lee sungmin. Dia tidak jelek. Seperti member super junior bilang dia malah sangat cantik. Tapi aku mengurungkan niatku karena sekarang gadis didepanku benar-benar seperti mayat hidup. Wajahnya sangat pucat. Aku menaruh jaketku padanya dan menyuruhnya memakai tudung kepala di jaketku. Aku memegang tangannya yang sekarang sangat dingin. Aku menggandengnya keluar dari restaurant tapi sepertinya akan sangat tidak aman bila seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekatkan tubuhnya denganku agar aku bisa benar-benar melindunginya. Aku bisa mendengar mereka menyebut-nyebut namaku dan bertanya siapa gadis yang sekarang aku peluk ini. Aku hanya bisa menjawab mereka dengan senyuman.

Sesampainya di mobil, Young na masih tidak berbicara. Dia masih sangat shock. Setelah di mengangguk dan mengatakan dia tidak apa-apa aku memutuskan untuk langsung pulang. Aku sama sekali tidak memikirkan omelan manajer nanti karena kejadian ini. Aku hanya ingin melindungi adikku. Setidaknya sebelum dia pergi ke Amerika.

Aku membantunya berkemas dikamarnya. Kamarnya masih tetap sama. Berwarna pink dengan semua stuff yang juga dominant pink. Ini lah salah satu alasan mengapa aku juga menyukai warna pink. Karena young na juga sangat suka warna pink. Setiap melihat warna pink, yang ada dipikiranku hanya Young na. dan setiap melihat warna pink, aku juga merasa Young Na sedang memikirkan ku.

~ Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do) Nuhl saranghaneun guhl (I do) Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do) nuhreul jikyuhjulge (I do) ~

telepon young na berdering. Dia memakai nada dering Marry You pada lyric yang dinyanyikan olehku.

“yoboseo? Ah… omma..” wajahnya riang saat menerima telepon ini. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah muram

“ah… arraseo omma.. gwencana.. aku besok akan diantar ahjussi..ne, omma.. saranghaeyo omma…appa…” dia menutup teleponnya.

“waegereyo??”

“omma dan appa tidak bisa mengantarku besok. Rencananya omma akan pulang hari ini tapi ternyata appa akan bertemu klien di China dan omma tidak tega bila harus meninggalkan appa mengurus semuanya sendiri.”

‘sial!! Dan aku besok juga tidak bisa mengantarnya!’ aku mengutuk diriku sendiri.

“Bukankah oppa besok akan ke China juga? Aku melihat schedule super junior via internet kemarin” omongan young na membuyarkan lamunanku. aku terdiam. Sekali lagi aku mengecewakannya

“Ne..oppa besok harus berangkat dan jamnya keberangkatannya ternyata juga sama dengan pesawatmu. Mianhae Young na…” aku sekarang melihatnya yang duduk disamping tempat tidurnya. Diam. Menghentikan aktivitas berkemasnya.

“gwencana oppa..” aku mendengar nada kecewa dikata-katanya. Tapi aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.

‘aku benar-benar bukan oppa yang baik untukmu Young na..jongmal mianhae..’ kata-kata itu tersendat di tenggorokanku.

Jam 9 pagi aku dan member super junior yang lain sudah berada di bandara. Seperti biasanya ELF juga sudah stand by disana. Tapi kali ini perhatian mereka lebih kepadaku. Akibat insiden kemarin, ELF masih penasaran siapa yeoja yang bersamaku. Aku hanya menulis ‘aku sedang bersedih…sekarang aku single lagi…kita putus’ di Cyworld ku. Biarlah mereka berspekulasi siapa mantan pacarku daripada berspekulasi siapa adikku.

Aku melambaikan tanganku pada ELF sesaat sebelum benar-benar pergi tapi pandangan mataku terhenti di dua sosok yang sekarang sedang berpelukan.

“Young Na!!dengan siapa dia? itu bukan ahjussi!! Ah!!sial aku tidak bisa mendekatinya!! Dan namja itu kenapa seperti menyamar?pakaiannya sangat tertutup dengan topi, kacamata dan masker!” sesaat aku terus menatap mereka. Aku benar-benar ingin tau siapa namja itu tapi berarti sama saja aku membunuh adikku sendiri.

“siapa namja itu?aku tidak pernah tau Young Na punya pacar! Anii.. dia bahkan tidak pernah punya teman dekat! Haaaiiisssh… situasi ini membuatku gila!”pikiranku benar-benar kalut.

“Hyung..palliwa..kita harus sudah pergi” Ryeowook menyenggol tanganku tanda memperingatkan.
-to be continued-

(FF-part 1 of 4- PG+13) What if



Alunan piano mengalun indah dirumah megah ini. Seorang gadis sangat menikmati jari-jarinya menyentuh tuts piano. Dengan sesekali dia melihat keluar jendela. Sepi. Dia merasa hanya dirinya sendiri yang ada di dunia ini.

“nona… sarapannya sudah siap” seorang pelayan mendekatinya dan berkata dengan sangat sopan dan halus. Gadis ini menghentikan permainan pianonya.

“ne..ahjussi..aku akan segera makan” dia tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada kursi roda yang tepat berada di sebelahnya. Dia berusaha mencapai kursi roda itu tapi badannya terlalu lemah. Si pelayan sudah akan maju untuk membantu tapi gadis itu menolak halus.

“tidak usah ahjussi..aku harus bisa sendiri..kalo begini saja aku tak bisa, aku benar-benar bukan orang yang berguna” sambil terus berusaha akhirnya gadis itu bisa memindah posisinya.

Di ruang makan, terdapat bingkai foto keluarga. Gadis itu tersenyum sebelum menyatap hidangannya.
“appa…omma…oppa… jalmokelsemnida” ada suara rindu yang teramat sangat disitu. Gadis itu berusaha memakan makanannya dengan lahap, tapi rasa kangen itu semakin menguat..

“what if……”gumamnya..

= flash back =

- Lee young na POV-

Aku bersemangat pagi ini. Tadi malam omma menelpon mengabarkan kalo omma dan appa akan pulang ke korea untuk sementara waktu. Appa adalah seorang pengusaha sukses di korea dan jepang tapi appa lebih sering di Jepang karena ingin lebih melebarkan sayap bisnis nya disana dan Omma selalu menemani appa. Aku terbiasa dengan keadaan ini. Sepi. Sendiri.

“annyong… oppa.. hari ini appa dan omma akan pulang dari jepang. Bisakah ikut aku menjemput mereka di airport?” ucapku antusias melalui telepon

“mianhae.. oppa tidak bisa..” singkat. Aku tau alasannya.

“ah…arraseo.. tapi nanti oppa pulang ya untuk bertemu dengan mereka” ucapku sebelum mengakhiri pembicaraanku dengan oppa ku satu-satunya ini. Dia tidak menjawab.

“kalo oppa tidak menjawab berarti oppa akan pulang!! Sampai bertemu dirumah oppa” aku menekan tombol merah di hapeku.

‘dia pasti pulang. Aku tau oppa juga pasti kangen appa dan omma’

Appa dan omma datang dengan bawaan yang tak terlalu banyak. Bisa dilihat tasnya hanya berisi beberapa helai baju. Tentu saja dirumah masih ada baju mereka tapi ini terlalu simple. Benar saja. Mereka hanya 2 hari di korea. Dan saat aku tau itu, aku sangat ingin oppa berada disini.

Aku berada dikamarku saat kudengar suara bentakan dari ruang keluarga. Rumah ini memang sangat besar tapi terlalu sepi sehingga suara sekecil apapun bisa terdengar. Aku tau itu suara bentakan appa. Aku berlari dari kamarku.

‘oppa…! dia pasti datang!’ aku berlari hingga menimbulkan suara gaduh. Aku melihat oppa duduk berhadapan dengan omma dan appa.

“ada apa ini?” tanyaku masih sambil mengatur nafas

“ya! anak kecil! Kembali ke kamarmu!” oppa menyuruhku kembali ke atas. Aku tak bergeming. Ku alihkan tatapan mataku pada omma, tapi omma tak mengatakan apa-apa. Tangan omma memegang tangan appa tanda menenangkan emosi appa.

“ada apa ini?” Tanya ku ulang “masih masalah perusahan lagi” lanjutku. Sekarang mereka semua menatapku. Aku tau. Pasti masalah ini.

“Lee young na, tidak usah ikut campur” oppa kembali memperingatkanku. Aku hanya tersenyum dan memilih duduk disamping oppa daripada kembali ke kamar

“kenapa kalian semua selalu memperlakukanku seperti anak kecil? Aku sudah kelas 3 Sma.. ah, anii.. aku sudah lulus. Seminggu lagi aku lulus. Dan kalian masih terus mengira aku anak kelas 2 SD yang menangis setiap mendengar bentakan?”

“anak ini! Oppa bilang diam!”

“arraso..kalo tidak ada yang mau mengatakannya padaku, aku yang akan mengatakan sesuatu hal..” aku terdiam sebentar

“hmm…. Aku memutuskan, mengambil kuliah manajemen di amerika” ucapku mantap. Omma dan appa terlihat shock mendengar berita ini. Dan aku bisa merasakan oppa menatapku tajam saat ini.

“Young na… ada apa ini sayang?”omma mulai membuka mulutnya. Aku bisa mendengar nada kelelahan disuara omma. Aku tau omma pasti juga lelah dengan pertengkaran anak dan ayah ini.

“anii…aku hanya ingin mengurus perusahan appa kelak…” aku tersenyum. Sebisa mungkin tidak memperlihatkan kesedihanku.

“jangan main-main young na! ini perusahan besar!” appa berkata tegas. Sekali lagi appa tidak mempercayaiku. Aku tau aku tidak punya otak sepintar oppa tapi Cuma ini caraku untuk membuat keluarga ini bersatu lagi. Membuat oppa dan appa tidak selalu meributkan hal yang sama berulang-ulang. Walaupun aku harus mengorbankan impianku selama ini.

“baiklah kalo itu keputusanmu. Besok appa akan urus semuanya. setelah hari kelulusan, kamu langsung pergi ke amerika.” Oppa pergi dari ruangan ini yang disusul oleh omma.

“huuuuaaah…” aku menyandarkan kepala ku ke sofa dan memejamkan mataku. Sebenarnya aku takut melihat tatapan orang disampingku. Tatapan oppa apabila sedang marah sangat menakutkan untukku.

“Ya!! Lee young na! tidak usah berpura-pura tidur” aku membuka mataku dan masih tidak berani menatapnya.

“wae oppa?” aku memberanikan diri menatap sosok disebelahku

“Iko mwoya??jangan bercanda di depan appa. Itu tidak lucu sama sekali”

“anii.. aku serius oppa. Aku akan kuliah di amerika..hmm.. aku akan melihat orang-orang cakep disana!pria-pria berambut pirang! Huuaaaahh.. aku benar-benar tak sabar” ucapku dengan nada antusias. Menutupi rasa takut didalam hatiku. Takut saat meninggalkan rumah ini semuanya malah bertambah rumit. Aku takut…
Oppa terdiam. oppa tidak menatapku lagi kali ini.

“jangan korbankan cita-citamu hanya untuk membuat oppa kembali ke rumah ini lagi young na…karena percuma saja..semuanya sudah sangat rumit untuk bisa diselesaikan…”
-to be continued-

Tuesday, 27 July 2010

He is not a playboy (Part 1)


(ini adalah fans fiction pertamaku yang sudah aku posting di notes FB ku sebelumnya. please enjoy my fans fiction)

Berstatus in relationship dengan seorang bintang memang perlu keteguhan hati yang lebih untuk bisa tetep setia dan percaya.

Rumour bukan hanya datang satu-dua kali, tapi lebih banyak daripada good news yang aku dengar dari mereka,para netizen selama ini. Tapi aku telah memilih untuk menjalani hubungan ini dengan ‘sang bintang’ itu.

Sang bintang yang juga punya nickname ‘playboy’ yang selalu jadi perhatian dan selalu jadi pergunjingan itu adalah Lee donghae. Cowok ter-cakep, ter-keren, ter-kaya, dan masih banyak ‘ter’ yang menjadi title nya. Termasuk terbanyak punya mantan pacar. Bintang yang sekarang menjadi pacarku adalah salah satu member dari boy band hallyu asia ‘Super Junior’.

Aku tak pernah bermimpi untuk bisa menjadi bagian dari dirinya. Jujur saja, seorang Lee donghae memang sangat menarik tapi aku tak pernah menganggapnya sebagai seseorang yang harus selalu dipuja. Bagiku Donghae sama dengan yang lainnya. Dia bisa bahagia, dia bisa marah dan dia bisa jadi melankolis. Aku tak pernah meperlakukannya sebagai seorang bintang. Mungkin di luar sana dia adalah bintang tapi apabila dia berada didekatku itu berarti dia adalah pacarku. Pacar yang sewajarnya.

“chagiya, besok kamu ikut aku ya?”Tanya Donghae via telepon

“Kemana?”

“nonton pacarmu ini perform…”

“dimana?”

“I’ll text you...nanti sehabis aku perform kita bisa sekalian jalan – jalan.Okay?”Donghae sedikit memaksa. Akhirnya aku mengiyakan ajakannya

Donghae berani mengajakku pergi karena semua member telah mengetahui hubungan kita. Termasuk manajer dan artis-artis SM entertainment lainnya. Menyenangkan? Tidak seutuhnya…

Dalam sebulan ini udah berapa kali aku menolak ajakan Donghae. Kali ini biarlah aku Jalan dengannya.

- Donghae POV-

“I’ll text you...nanti sehabis aku perform kita bisa sekalian jalan – jalan.Okay?” aku menutup telepon dan segera mengirim alamat dimana aku akan perform.

Aku tidak pernah menyangka aku bisa berpacaran dengan gadis biasa sepertinya. Yang aku temui di supermarket dekat kantor SM Entertainment. Aku yang waktu itu tergesa-gesa untuk membeli minuman untuk member lain, lupa membawa dompet. Aku menyamar dengan sangat-sangat rapi agar orang-orang disekitarku tidak mengenalku dan aku yakin tidak ada yang mengenalku. Pada saat akan membayar, aku baru sadar dompetku tidak ada disaku kantongku. Mengeluarkan suara bisa menarik perhatian semua orang karena supermarket pada saat itu sedang ramai. Dan gadis itu dengan sopan mengeluarkan dompetnya dan mengatakan ‘oppa, kau lupa membawa dompet ya? untung aku melihatmu masuk ke supermarket ini..’ dia mengeluarkan dompetnya dan membayarkan semua minuman yang aku beli

‘Hansahamnida ahjussi..’ dia mengatakan dengan sopan ke kasir. Dia pergi tanpa mengindahkan aku. Aku masih tidak bisa mengeluarkan suara sampai keluar dari supermarket. Aku berfikir, mungkin saja gadis ini telah mengetahui bahwa aku adalah lee donghae, karena itulah dia bersikap manis. Tapi pada saat aku menghentikan langkahnya

‘cakamanyo..aku belum mengucapkan terimakasih padamu’

‘ani…tidak apa-apa. Aku pernah sepertimu, dan akan sangat malu bila ketauan kita tidak membawa dompet tepat disaat akan membayar. Karena itulah aku tadi langsung bersikap seperti adikmu..ah, mianhae karena memanggilmu oppa tanpa persetujuanmu..’ ucap gadis itu sembari membungkuk 90 derajat.

Saat itu aku sadar, dia tidak mengenalku. Dia benar-benar pure ingin menolongku. Dan pada saat membungkuk, itu membuatku kaget. She has a good manner. Dan rambutnya yang saat itu tergerai benar-benar terlihat halus. Dia sangat manis tanpa make-up sekalipun. Dia terlihat tergesa-gesa dan tanpa membuang waktuku aku menanyakan namanya untuk mengembalikan uang yang telah dipinjamnya. Dia memberikan kartu namanya ‘Park Ha ra’.

Ya, gadis itu yang membuat ku lupa bahwa SM Entertainment punya banyak sekali artis yang sangat di idolakan diluar sana. Aku melupakan bagaimana cantiknya para personil Girls’ Generation dan f(x). dan saat itu pula, aku lupa bahwa aku masih berstatus in relationship dengan Yoona SNSD. Hubunganku tidak berjalan baik selama 3bulan terakhir ini setelah ada rumour tentangnya dan Taecyon 2pm. Bukannya aku tidak mempercayainya,tapi sifatnya yang selalu balik menuduhku yang macam-macam apabila kita berdua sedang membicarakan hubungan kita, membuatku lelah. Selalu saja menyangkut paut kan hubunganku dengan Sunye yang telah kandas. Menuduhku punya feeling dengan beberapa ELF karena jawabanku di UFO yang mengatakan bahwa pacarku adalah ELF.

Memutuskan hubungan dengan Yoona bukan segampang membalikkan telapak tangan. Membuatnya menangis sama dengan membuat ke 8 member SNSD lainnya angkat tangan. Yang paling membuat aku marah tentu saja komentar Jessica.

‘Mwo?kamu berani memutuskan Yoona,oppa? Sudah mendapat yang lebih cantik dari dia??siapa? member dari girl band mana?’

Andai saja dia tidak perempuan dan bukan satu management denganku, sudah aku tamper mulut tajamnya itu.


-Park Ha Ra POV-

Aku menutup teleponku. Mendengar suaranya benar-benar membuatku tenang. Hanya gadis bodoh yang menolaknya. Dan aku adalah pernah menjadi gadis bodoh itu. Sebulan setelah kejadian di supermarket itu, kita rutin mengirim sms satu sama lain. Aku tidak pernah tau dia siapa. Yang aku tau, dia hanya cowok yang kebingungan dikasir karena dompetnya ketinggalan dan aku yang tepat berada dibelakangnya menolongnya dengan membayar semua belanjaannya. Aku hanya memanggilnya oppa seperti apa yang diinginkannya. Tapi pada saat aku bertemu dengannya lagi di sebuah taman, aku tau siapa dia. dia bintang yang sangat terkenal. Dia dancing machine Super Junior yang punya berjuta-juta fans diluar sana. Dan pada saat dia menyatakan cintanya di taman itu, aku menolaknya. Bukan karena aku merasa rendah dan minder. Tapi tidak ada alasan aku harus menerimanya. Tapi donghae sepertinya tidak main-main dengan omongannya. Dia mengatakan bahwa dia akan berubah menjadi orang biasa bila sedang berada dekatku. Dia bukanlah lee donghae si dancing machine. Dia bukan bintang. Dia tidak punya berjuta-juta fans bila sedang berada dekatku. Dia hanya the ordinary donghae bila dia sedang disisi ku.

Aku mencoba mempercayainya. Terus mempercayainya. Rumors tentang dia dengan mantan-mantannya bukan hanya membuat telingaku panas. Tapi hati ini juga harus terus ditenangkan agar pikiranku tidak ikut kalut. Nitizen hanya tau Sunye Wonder girls dan Yoona Snsd hanya sekedar mempunyai kedekatan dengan donghae, tapi aku tau kenyataannya. Mereka adalah mantan pacar donghae. Dan memikirkan Yoona yang berada satu management dengan donghae membuatku agak sedikit pusing.

Aku menepati janjiku pada donghae untuk datang ketempat dimana super junior akan perform. Aku mengerti bahwa hal yang sangat susah bila harus memintanya menjemputku. Kesibukannya benar-benar menyita waktu. Dan syarat dari management nya untuk selalu berhati-hati menjadi alasan susahnya kita bertemu.

Jujur saja, aku paling nggak tertarik dengan keramaian. Bolehlah sekali – kali jalan – jalan, shopping, tapi aku bukan tipe gadis yang harus tiap minggu keluar hanya untuk shopping. Aku lebih senang datang ke tempat – tempat baru ketimbang datang ke mall. Sepertinya Donghae tau akan hobby ku itu.

Pernah Donghae membawaku ke suatu tempat makan yang pemandangannya nya bagus banget. Nyaman dan bener – bener bebas kebisingan kendaraan. Jauh dari keramaian kota. Aku tidak pernah berfikir bahwa ini adalah cara Donghae untuk dapat menarik perhatianku. Hanya saja aku merasa sangat nyaman bila berdua dengannya. Tidak peduli apa label dia, tidak peduli berapa mantannya, asal dia bisa menghargai privacy ku, membuat ku nyaman, dan dia bisa menyayangiku, semua lebel yang ada di Donghae tidak akan aku permasalahkan.

Aku membawa mobil sendiri. Aku sudah siap dengan pakaian yang sangat biasa. Hanya kaos berwarna Biru, vest abu – abu dan jeans. It’s so simple. Aku turun dari mobil dan langsung membaur dengan para ELF yang sudah menunggu didepan panggung. Super Junior menyanyikan lagu barunya No other. Aku sempat berfikir, aku akan berjodoh dengan donghae bila dia bisa menemukanku di antara lautan ELF ini. Pikiran yang bodoh. Tapi pada saat part donghae, kita berdua benar-benar berkontak mata. Donghae benar-benar bisa menemukanku diantara lautan biru itu! Aku shock! Tapi kemudian aku berfikir, mungkin ini hanya kebetulan..benar, ini hanya kebetulan.

Ternyata yang hari ini akan perform bukan hanya Super junior, tapi SNSD juga akan tampil. Lautan biru ini membuat ku susah bernafas. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat yang lebih tenang. Backstage terlarang untuk para ELF dan aku yang saat ini berpredikat sebagai ELF memilih untuk tidak mendekati tempat itu. Aku berjalan menuju tempat parker. Disini lebih tenang. Ternyata aku parkir persis disamping mobil Super junior dan SNSD. Aku baru akan menghubungi donghae tapi suara yang tidak asing membuatku mengurungkan niatku.

“kamu park ha ra?yeoja chingu nya donghae oppa?”Tanya seorang cewek berambut pirang padaku. Nada bicaranya ketus. Disamping gadis berambut pirang itu yang biasa dipanggil sica itu, berdiri gadis satu lagi yang juga terlihat angkuh. Dia mantan terakhir donghae. Yoona. Gadis didepanku ini harus diakui cantik, badannya pun sangat perfect. Dan yang membuatnya terlihat lebih sempurna bila berpasangan dengan donghae karena mereka sama-sama dancing machine di grupnya. Aku masih berfikir, apakah donghae gila memutuskan gadis itu? Dan apa bagusnya aku bila dibanding dia?

“Ne.. wegeroyo?”jawabku sopan

“ck…ck….selera donghae sudah berubah rupanya. Sekarang dia suka tipe cewek yang kaya gini?”dia memperhatikanku seakan aku bukanlah manusia

“Mianhae, do you have a problem with me?” kebiasaanku bila sedang sangat marah adalah mengucapkan kata-kata in English.

Itu adalah cewek ke 4 yang bertanya pertanyaan sama selama hampir 3 bulan aku jalan dengan Donghae. Marah pasti, tapi untuk apa dimasukin ke hati? Aku emang beda dengan semua mantan – mantan Donghae.

“chagiya..” seseorang memanggilku tepat disaat aku akan masuk mobil.

“hai….sorry, tadi aku pindah kesini soalnya..”aku tak melanjutkan karena sepertinya Donghae sudah tau jawabannya. Cewek yang tadi aku tinggalkan sekarang berjalan ke arahku. Aku nggak terlalu memperdulikan. Aku lebih memilih mengambil handphone ku dan mulai memencet tombolnya acak.

-Donghae POV-

Aku tak menemukan Ha ra di backstage.

‘apakah dia masih diantara kerumunan ELF? Sekalipun aku menelponnya,dia tidak akan tau karena sangat bising’ pikirku pada saat itu

Saat melewati ruang ganti SNSD aku mendengar coordi- noona sedang memanggil-mangggil Yoona dan Jessica. Dan aku tau, mereka tidak di situ saat itu. Yuri mengatakan pada coordi-noona bahwa Yoona and Jessica sedang kembali ke parkiran untuk mengambil Ipod yoona yang ketinggalan. Waktu yang pas. Aku harus bertemu dengan 2 orang itu lagi dan berkata tegas pada mereka untuk tidak lagi menganggu ku.

Ha ra tidak pernah tau, bahwa Yoona masih selalu menelpon atau sekedar mengirim sms padaku. Aku tidak pernah membalasnya tentu,tapi omongan Jessica selalu membuat telinga panas bila kita bertemu. Aku terkadang bingung, kenapa Jessica selalu ingin tau semuanya. Padahal masalah ada di aku dan yoona, bukan dengan dia.

-Park Ha Ra POV-

“hai donghae oppa…dance mu sangat memukau tadi”sapa Yoona manja

“oh..hai yoona..gumawoyo”jawab donghae tenang.

Donghae memperkenalkan 2 gadis didepanku padaku dan persis seperti adegan di film – film. Sang mantan yang tidak mau berjabat tangan dengan pacar baru dari mantannya.

“sekarang dia pacar oppa?selera oppa udah ganti?”Tanya Jessica sinis

Aku menghentikan pandanganku dari layar handphone.

“aneh banget dandanannya. biasa banget!! Nggak bisa sejajar sama oppa yang sempurna..” Yoona menambahi.

“ah.. dan keliatan minder banget ya kalo deket sama oppa?sampe nggak mau nunggu oppa di backstage? ck….ck….ck….jangan – jangan udah nggak ada yang mau sama oppa ya?sampe harus ngambil stock cewek yang kaya gini?”si Jessica masih tetap nyerocos.

Cukup! Stock? memang aku barang?bisa dijadiin stock?

“ Ya!!!kau!!” aku sudah bersiap untuk mengajukan keberatanku tapi Donghae sudah terlebih dahulu membuka mulutnya.

“Ya!! Sica!! Ada apa denganmu?apa urusanmu hah?” aku merasa tangan donghae menyentuh tanganku dan mulai menggemnya erat. Yoona sepertinya tau hal itu dan terlihat akan menangis.

“sebaiknya kau bawa temanmu ini yang hampir menangis. Make-up kalian bisa luntur kalo menangis” donghae berkata dengan nada yang dipaksakan sangat tenang.

Jessica menahan Yoona. Dia menatapku dengan tatapan sangat hina.

“aku cuma kasihan aja dengan gadis ini!! Dia keliatannya lugu banget, bisa – bisa dia bunuh diri lagi kalo oppa putusin dia…atau jangan – jangan oppa bisa bertahan sampai selama ini dengannya karena gadis ini belum ngasih apa yang oppa minta ya?”

Aku bersiap akan maju untuk membungkam mulut tajam cewek pirang ini.tapi genggaman donghae semakin menguat.

“ah…. Yang aku dengar, dia anak pengusaha terkenal di jepang sana ya? kau tertarik dengan hartanya oppa? Atau dengan tubuhnya?” Jessica melanjutkan kata-katanya.

Jantungku berdegup kencang. Ini sudah kelewatan. Aku tidak bisa menerimanya. Tapi entah kenapa aku hanya bisa terdiam. Seluruh kekuatanku untuk memaki balik Jessica seakan hilang. Aku terlalu shock!!

“Ya!! Jessica!! jaga omonganmu!!!”bentak Donghae sambil menarik tanganku pergi dari tempat itu.

Donghae mengambil kunci mobil dari tanganku dan mulai menyetir dengan kecepatan gila-gilaan. Dan aku hanya bisa terdiam. Aku tidak bisa menangis. Bukan. Aku tak mau menangis didepannya.

-Donghae POV-

Aku menarik paksa Ha ra yang sepertinya terlalu shock mendengar omongan Jessica sehingga tubuhnya memaku tak bergerak. Aku mengutuk diriku sendiri. Mengapa aku tak langsung memberi pelajaran Jessica karena omongannya dan malah pergi dari tempat itu. Pikiranku kalut. Aku tak berani melihat ha ra yang sekarang masih terdiam di sampingku. Kupacu gas mobil dengan kecepatan penuh dan baru sedikit aku turunkan kecepatanku setelah melihat tangan Ha ra yang gemetar.

Aku hentikan mobil dipinggir jalan. Ha ra masih diam. Dia pasti marah hingga tak bisa berkata apapun. Aku menggenggam tangannya yang gemetar.

“chagiya..Gwencanayo?” aku menatapnya tapi pandangannya tetap pada tangannya. Aku ulangi pertanyaanku dan dia tetap diam. Aku tarik tubuhnya kedalam pelukanku. Dia tak membalas pelukanku, tapi itu semakin membuatku menguatkan pelukanku. Aku benar-benar bersalah pada gadis yang sekarang berada di pelukanku ini. Namja chingu macam apa aku yang tidak bisa melindungi yeoja chingunya?? Aku kembali mengutuk diriku.

“mianhae…jongmal mianhae” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku.

Aku merasa pundakku basah. Dia menangis! Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Aku tau, dia bukan gadis yang gampang menangis dan sekarang dia menangis karena aku!

Aku lepaskan pelukanku. Kuangkat wajahnya yang sekarang basah karena air mata. Pada saat memegang wajahnya. Dia benar-benar cantik meski tanpa make-up. Tapi yang aku lihat sekarang adalah wajah shock menahan marah. Dia belum berani menatapku sampai akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya….

- to be continued-